Senin, 25 September 2017

Text 2 - Nilai dari suatu Gelar Perguruan Tinggi

Naiknya biaya yang lebih tinggi menyebabkan banyak orang mempertanyakan nilai dari melanjutkan pendidikan setelah SMA. Banyak yang bertanya-tanya apakah biaya kuliah yang tinggi, biaya oportunitas dari memilih kuliah disbanding bekerja penuh, dan akumulasi ribuan dolar hutang merupakan, dalam jangka panjang, investasi yang berharga. Resikonya besar khusunya untuk keluarga yang berpenghasilan rendah yang mempunyai kesulitan waktu memenuhi kebutuhan tanpa beban tambahan dari biaya kuliah dan bayarannya.
Dalam rangka memutuskan apakah pendidikan yang tingii merupakan investasi yang berharga ,sangat bermanfaat untuk menguji apa yang diketahui tentang nilai pendidikan yang lebih tinggi dan tingkat pengembalian investasi untuk individu dan masyarakat.
Nilai Ekonomi Dari Pendidikan yang Lebih Tinggi
Ada dukungan yang cukup untuk gagasan bahwa tingkat pengembalian investasi pada pendidikan yang lebih tinggi cukup tinggi untuk menjamin beban financial yang berhubungan dengan mengejar suatu jenjang kuliah. Meskipun perbedaan pendapat antara lulusan perguruan tinggi dan SMA bervariasi sepanjang waktu, lulusan perguruan tinggi rata-rata menghasilkan lebih banyak disbanding lulusan SMA. Menurut Sensus BPS selama masa kerja orang dewasa, lulusan SMA menghasilkan rata-rata 1,2 juta dolar, jenjang asosiasi mendapat penghasilan sekitar 1,6 juta dolar (Day and Newburger, 2002)
Perbedaan-perbedaan yang cukup besar ini pada penghasilan sepanjang hidup membuat biaya belajar di perguruan tinggi menjadi memiliki perspektif yang realistis. Kebanyakan murid sekarang-sekitar 80% dari semua murid –melakukan baik universitas umum 4 tahun atau universitas umum 2 tahun. Menurut laporan Depdik, Teknik College early, mahasiswa penuh waktu di universitas umum 4 tahun membayar rata-rata 8.655 dolar untuk pembayaran kuliah dalam negeri, kamar dan makanan (depdik Amerika 2002). Mahasiswa penuh waktu di universitas umum 2 tahun membayar rata-rata 1.359 dolar per tahun untuk bayaran (depdik Amerika, 2002).
Statistik ini mendukung gagasan bahwa meskipun biaya pendidikan yang lebih tinggi itu signifikan, melihat kesenjangan pendapatan yang ada antara mereka yang meiliki pendapatan dari jenjang sarjana dan mereka yang tidak, tingkat pengembalian investasi individu di pendidikan tinggi cukup tinggi untuk menjamin biayanya.
Manfaat Lain dari Perguruan Tinggi
Lulusan universitas juga menikmati manfaat selain kenaikan pendapatan. Sebuah laporan yang dipublikasikan pada tahun 1998 oleh institusi kebijakan pendidikan tinggi mereview manfaat individual yang dinikmati lulusan universitas, termasuk tingkat tabungan yang lebih tinggi, kenaikan mobilitas personal atau professional memperbaiki kualitas hidup untuk masa pension mereka, pembuatan kompetensi konsumen yang lebih baik dan lebih banyak aktifitas terkait hobi dan kesukaan (Institut untuk kebijakan edukasi yang lebih tinggi, 1998).
Menurut sebuah laporan yang dipublikasikan oleh yayasan Carnegie, manfaat non moneter individu atas pendidikan yang lebih tinggi termasuk kecenderungan siswa pasca sarjana untuk menjadi lebih terbuka secara pikiran , lebih berbudaya, lebih rasional, konsisten, dan kurang otoriter. Manfaat-manfaat ini juga diturunkan untuk generasi berikutnya (Rowley). Sebagai tambahan, yang mengikuti kuliah terlihat menurun prasangkanya menamba pengetahuan keadilan dunia dan menambah status social ketika meningkatkan keamanan ekonomi dan perkerjaan untuk mereka yang menempuh derjata sarjana (Ibid).
Penelitian secara konsisten juga menunjukkan hubungan positif antara pemenuhan pendidikan tinggi dengan kesehatan yang baik, tidak hanay untuk satu orang tapi juga untuk anak-anak mereka. Faktanya tingkat pendidikan orangtua (setelah mengontrol perbedaan berhubungan positif dengan status kesehatan  anak-anak mereka dan kenaikan pendidikan (pendapatan relatif yang lebih tinggi) berkorelasi dengan tingkat kematian yang lebih rendah untuk jenjang usia tertentu (Cohn dan Geske, 1992)
Nilai Sosial Dari Pendidikan yang Lebih tinggi
Beberapa penelitian telah menunjukkan tingginya korelasi antara pendidikan yang lebih tinggi dan nilai keluarga dan budaya dan pertumbuhan ekonomi. Menurut Elchanan Cohen dan Terry Geske (1992) terdapat kecenderungan bagi perempuan yang lebih berpendidikan tinggi untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka ,wanita-wanita ini cenderung menggunakan waktu untuk mempersiapkan lebih baik anak-anak mereka untuk masa depannya. Cohn dan Geske (1992) melaporkan bahwa perguruan tinggi nampak lebih memiliki optimisme menatap masa lalu dan kemajuan masa depan personal.
Manfaat umum dari menghadiri kuliah termasuk meningkatkan pendapatan pajak ,produktifitas tempat kerja yang lebih baik, kenaikan konsumsi, kenaikan fleksibilitas usaha kerja, dan pengurangan ketergantungan terhadap dukungan financial dari pemerintah (Institud untuk kebijakan edukasi yang lebih tinggi, 1998).
Kesimpulan
Meskipun jelas bahwa investasi pada jenjang universitas terutama bagi mahasiswa yang memiliki pendapatan rendah adalah sebuah beban financial, manfaat jangka panjang terhadap individu dam masyarakat luas terlihat jauh melebihi biayanya.

Senin, 18 September 2017

Text 1 - Gangguan Dorongan Rasa Keinginan yang berlebihan ( Obsessive Compulsive Disorder)

OCD atau gangguan dorongan akan rasa keinginan yang berlebihan adalah diagnosa klinis terkait suatu gangguan kecemasan yang menjangkiti hingga 4% orang dewasa dan anak-anak.
Orang-orang yang menderita gangguan  ini memiliki pemikiran yang menyedihkan dan mengganggu yang dapat menyebabkan mereka melakukan perilaku yang diulang-ulang. seperti menghitung diam-diam atau mencuci tangan dengan terus menerus.
meskipun penderita OCD memahami bahwa keinginan berlebihan mereka tidak realistis mereka juga menyadari bahwa sangat sulit untuk mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang mengganggu akal mereka.  Mereka yang menderita OCD menunjukan pola perilaku yang kaku yang menjadi sangat memakan waktu dan mulai mengganggu rutinitas harian. banyak orang dengan OCD menunda mencari cara mengobatinya karena mereka malu atas pikiran dan perilaku mereka sendiri.

penderita OCD mengalami kecemasan yang tidak beralasan juga berlebihan dalam bertindak yang menjadikan stres. dalam ketakutan akan kekotoran dan kontaminasi adalah pikiran-pikiran berlebihan/obsesi yang paling umum.  obsesi dengan keteraturan dan kesesuaian juga umum. dikasus yang lain, pemikiran tetap berpusat pada keraguan, seperti apakah pintu sudah dikunci atau belum, atau sudahkah kompor dimatikan. gerakan gerakan impulsif seperti dorongan untuk bersumpah didepan umuk atau menarik alarm kebakaran adalah jenis gejala OCD yang lain. untuk mendiagnosa seseorang memiliki OCD, seorang penderita harus melatih obsesi dan atau kompulsi yang cukup sering dalam satu waktu (setidaknya sekali dalam satu jam setiap hari).

untuk melawan pikiran yang berlebihan dan keinginan, kebanyakan OCD menunjukkan kegiatan pengulangan yang tertentu yang mana mereka percaya akan mengurangi kecemasan mereka.  tekanan ini bisa secara mental ataupun perilakunya. kegiatan yang umum dilakukan termasuk mengecek, mencuci, menghitung, dan berdoa.  seringkali penderita OCD mengambil aturan yang kaku untuk keinginan mereka.  misalnya, perempuan yang terobsesi dengan kebersihan mungkin mencuci tangannya tiga kali sebelum makan dengan tujuan untuk mengeluarkan pikiran pikiran makanan kotor, atau alat alat makan kotor dari akal mereka. bagaimanapun, pada kebanyakan kasus, dorongannya tidak sesuai dengan keinginnanya sama sekali.  seorang laki laki yang terobsesi dengan gambar hewan mati mungkin diam diam menghitung hingga 500 atau menyentuh kursi tertentu lagi dan lagi untuk menghapus gambar hewan mati tersebut.  sedangkan objek yang dia pegang akan diabaikan, seoerti koran dan kontainer kosong adalah dorongan umum yang lain.

gejala OCD umumbya dimulai antara umur 10&24 tahun dan berlanjut tidak terhingga sampai seseorang mencari pengobatan. memiliki anak tampaknya tidak menjadi penyebab gangguan ini, meskipun stres atau tegang dapat membuat gejala semakin kuat. Telah dilakukan sebuah penelitian bahwa penyebab yang mendasari OCD adalah karena faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa OCD dan gejala yang terkait dengan kegelisahan sering terjadi memalui turunan keluarga, gejala spesifik untuk setiap anggota keluarnya tidak selalu sama. Misalnya, seorang ibu yang terobsesi dengan ketertiban atau ketentraman mungkin akan memiliki anak yang tidak dapat berhenti memikirkan tentang satu kata atau nomer.

Penelitian terhadap penderita OCD telah menemukan beberapa kecenderungan fisiologis. Faktanya, banyak penelitian menunjukkan adanya sirkulasi darah yang berlebih di beberapa tempat dalam otak. Sebagai hasil dari peningkatan sirkulasi darah, sistem serogenik yang mengatur emosi tidak berhasil berfungsi secara efektif. Penelitian juga menemukan bahwa penderita OCD ini kekurangan serotonin dibandingkan dengan kebanyakan orang. Jenis kelainan ini juga diamati pada sindrom Teurette dan Attention Deficit Hyperactive Disorder. Orang yang sedang dalam perkembangan syaraf seperti anak-anak telah ditemukan lebih rentan terkena OCD. Banyak laporan mengenai poin dalam OCD bahwa infeksi dapat memicu gangguan yang dinamai dengan infeksi streptococcal. Dipercaya bahwa penyakit radang tenggorokan mampu menimbulkan sebuah respon dari sistem imun yang menyebabkan beberapa gangguan neuropsychiatric, seperti OCD.

Karena penderita OCD cenderung tertutup terhadap gejala mereka, mereka sering menunda pengobatan mereka sampai beberapa tahun. Rata-rata penderita OCD menunggu hingga 17 tahun sebelum mendapatkan pengobatan medis. Seperti kebanyakan gangguan kecemasan, diagnosa awal dan pengobatan yang tepat dapat mengurangi banyak dari gejalanya dan memungkinkan seseorang untuk hidup normal. Banyak rencana pengobatan untuk OCD menggunakan perpaduan antara pengobatan medis dengan psikoterapi. Terapi kognitif dan perilaku digunakan untuk mengajari pasien tentang gangguan mereka dan menghilangkan kecemasan. Penghambat serotonin diresepkan untuk meningkatkan konsentrasi otak. Pengobatan ini terbukti  berhasil mengurangi gejala  pada banyak penderita OCD dalam waktu yang singkat. Untuk kasus ketika OCD dihubungkan dengan infeksi strepcoccal, terkadang terapi antibiotik sangat dibutuhkan.